Jadi emak2 kudu pinter
Qonita (2y4m) sebelum tidur, selalu saya ajak review kegiatan seharian yg dijalani, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Seminggu belakangan, saya mulai ngajak qonita cerita tentang Alloh, bismillah dalam rangka penguatan tauhid.
Hari pertama saya cerita Alloh maha pengasih penyayang, sambil saya peluk, dia bilang "ibu Alloh baik ya" trus dia terisak gitu, lah saya ny yg kaget tapi berusaha tetap tenang. Saya jawab "iya Alloh baik, sayang sama kk" trus minta doa sebelum tidur, tidur. 😊
Hari ke 3, saya cerita Alloh Ya Razaq sang pemberi rezeki. Saya ceritain kk bisa makan karena Alloh yg kasih rezeki rezeki kk dikasih Alloh lewat ayah. Ayah harus jemput rezekinya, makanya ayah pergi ke kantor 😁
Hari ke 4, saya masih cerita Alloh sang pemberi rezeki, kali ini karena di Bakaru sedang sering hujan, jadi saya cerita hujan itu rezeki dari Alloh. Soalnya hujan Alloh turunkan biar pohon2 pada minum, tanah jadi basah biar subur, ikan2 di kolam jadi dapet air baru (kk lagi suka ngelihat ikan). Kalau tanaman subur, kk bisa makan sayur. Klw air di kolam bagus, ikannya sehat, ikannya bisa dimasak, bisa dimakan.
Nah habis malam usai cerita Alloh pemberi hujan. Kita ber4 mau jalan ke kafe ummi hehehe.. Pas keluar rumah, langit mendung,
kk bilang "inget Alloh"
ayahnya nanya "apa kak?"
Kk: "inget Alloh ayah"
Saya: " kenapa Alloh ka?"
Kk: "kasih hujan"
Ayahnya nanya saya: "cerita apa tadi malam sama kk?"
Saya: "cerita Alloh pemberi rezeki lewat hujan"
Saya dan suami meleleh. Padahal baru segini aja, gimana emak2 lain yg udah bener2 tiap hari selalu cerita ke anak mereka, ah perasaan mereka pasti selalu bahagia kalau tujuan dari kisah yg diceritakan ke anak itu mereka ingat dan faham
Saya tau sekarang kenapa jadi emak2 kudu pintar malah kalau perlu kuliah nyampe S3. Otak anak usia batita ini, saat kita menuntun anak agar dia berjalan, ternyata dia berlari. Dan saya mengerti, ketika ada yg nanya "untuk apa kuliah kalau toh cuma jadi IRT?", Saya hanya akan menjawab "menjadi ibu tidak cukup hanya rumah kinclong, itu mah bisa didelegasikan kepada orang lain (ART), tapi perkembangan anak, hanya ibunya yg bisa menstimulasi, mendampingi, dan memberikan apresiasi ketika mereka mendapatkan pencapaian terbaiknya. Jadi anak shalih/ah yg mengangkat derajat orangtuanya di akhirat kelak"
Saya tiap hari jadi punya peer buat cerita ke qonita. Saya ini ga pintar, tapi kalau semangat belajar masih ada lah ya 😁. Jadilah itu si mbak Google temen baik saya nyari referensi. Tentunya harus sambil disaring, karena ga semua informasi bisa kita ambil. Tetapkan jalur istilahnya hehehe


Komentar
Posting Komentar